Properti

STRATEGI 3 IN 1 DALAM BERINVESTASI DI PADANG SUMATERA BARAT.

propertiproperti

Dalam bisnis properti, permasalahan lahan memang menjadi salah satu hal yang bisa menghambat jalannya pergerakan bisnis properti. Tidak saja masalah tingginya harga jual lahan disuatu daerah. Namun masalah keterkaitan lahan dengan status tanah lahan sebagai aset daerah juga menjadi kendalanya. Jika di Jogjakarta kita mengenal dengan istilah Tanah Kraton, maka di Padang Sumatera Barat kita  lebih mengenalnya dengan istilah tanah ulayat.

 

Secara deskripsi, tanah ulayat bisa diartikan, tanah bersama para warga masyarakat hukum adat yang bersangkutan. Hak penguasaan atas tanah masyarakat hukum adat dikenal dengan Hak Ulayat. Hak ulayat merupakan serangkaian wewenang dan kewajiban suatu masyarakat hukum adat, yang berhubungan dengan tanah yang terletak dalam lingkungan wilayahnya. Sehingga  karena factor itulah agak sulit  jika pada akhirnya status tanah ulayat di gunakan sebagai lahan untuk bisnis properti.

 

Melihat kondisi seperti itu, Harriandy, Independent Properti Padang memberikan masukannya,” Ada baiknya ketika kita ingin berinvestasi di Padang, hal pertama yang mesti dilakukan adalah melakukan cek and ricek status tanahnya”. Karena hal itu bisa menjadi kendala di kemudian hari ketika kita kurang detail dalam menganalisa status lahan yang akan di gunakan, jangan sampai status tanah itu justru di klaim sebagai tanah ulayat dalam jangka waktu 5-10  tahun kedepan. Jika itu terjadi justru kendala yang ada di depan kita.

 

Kondisi bisnis di Padang, memang tidak bisa di lepaskan dari peraturan dan kebijakan yang telah di tetapkan oleh Pemerintah Daerahnya. Dan masalah kebijakan Pemerintah Daerah yang bersumber dari adat istiadat  seperti ini, memang tidak mungkin di hilangkan. Namun bukan berarti hal itu menjadi satu kendala yang tidak mungkin bisa diatasi. Ada 3 cara yang  bisa dilakukan demi menyelamatkan bisnis kita sebelum melangkah lebih jauh. Pertama cek and ricek status tanah, kedua balik nama status tanah tersebut dengan mendaftarkan di Badan Pertanahan setempat dan ketiga baru lakukan proses pembangunan.

 

Karena tidak dapat dipungkiri, saat ini daerah menjadi salah satu alternative investasi properti yang menarik bagi para  pelaku dalam bisnis properti dan konstruksi. Begitujuga dengan Padang atau Sumatera Barat. Hingga memasuki Semester II tahun 2017, bisa dikatakan ekonomi Sumatera Barat memperlihatkan kinerja yang cukup menarik. Dimana ekonomi tumbuh sebesar 5,38 persen.  Berdasarkan data yang dihimpun dari Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat  itu sendiri diukur berdasarkan  besaran Produk Domestik Regional Bruto ( PDRB ) atas dasar harga berlaku pada triwulan III – 2017 yang mencapai Rp54,66 triliun serta harga konstan 2010 yang mencapai Rp39,58 triliun. Sedangkan jika di lihat secara (Q to Q) pertumbuhan ekonomi yang ada di Sumatera Barat meningkat sebesar 2,13 persen. Begitupula jika pertumbuhannya di lihat dari (C to C) dari triwulan I-III tahun 2017, angka meningkat sebesar 5,23 persen.

Baca juga !  Desain Dengan Paduan Warna Rumah yang Indah

 

Menariknya angka pertumbuhan ekonomi yang ada di Sumatera Barat, memang tidak terlepas dari potensi Padang sebagai salah satu daerah tujuan wisata yang cukup banyak di minati tidak saja oleh wisatawan mancanegara tapi juga dalam negeri. Tercatat dalam pantauan Bank Indonesia, hingga periode Oktober 2017  jumlah wisatawan mancanegara yang masuk melalui Bandara Internasional Minangkabau dan Pelabuhan Teluk Bayur hingga Oktober 2017 mencapai 4.826 orang. Terjadi peningkatan 11,02 persen dibanding periode September 2017 yang berada di angka 4.347. Begitupula dengan tingkat penghunian kamar ( TPK) hotel berbintang di Padang atau Sumatera Barat. Hingga memasuki Oktober 2017 rata-rata tingkat huniannya berada di kisaran angka 59,64 persen. Mengalami kenaikan meski masih kecil sekitar 0,37 persen dibanding September 2017 yang berada di angka 59,27 persen.

 

Sementara dari sektor non pariwisata yang juga masuk dalam bisnis properti yaitu dalam sektor perhotelan. Maka sektor perumahan menjadi salah satu sektor riil yang cukup menarik untuk menjadi perhatian para pelaku bisnis yang tertarik untuk mencoba peruntungan di kota yang terkenal dengan dengan Jam Gadangnya.

 

 

 

 

 

Saat ini dalam kaca mata Harriandy, model yang berkembang dalam bisnis perumahan adalah, bahwa pengembang setempat hanya akan membangun show unit atau rumah contoh 1-3 unit saja, baru setelah itu mereka melakukan pemasaran proyek perumahannya. Meskipun belum secara maksimal berkembang, namun potensinya dalam sektor perumahan yang masih menarik dibanding sektor apartemen dan sejenisnya. Itulah yang pada akhirnya menjadi dasar kenapa pengembang masih mempertahankan bisnis di sektor perumahan. Inilah model yang saat ini berkembang di Padang, sebuah konsep pembangunan yang agak beda dibanding proses pembangunan perumahan yang biasa di lakukan oleh pengembang lainnya. Pada saat proses pemasaran sudah masuk dalam tahap 70-80 % terjual, barulah pengembang melakukan pembanguna unit – unit perumahan lainnya.

 

Memang pasca terjadinya gempa beberapa tahun lalu, hingga memasuki tahun 2017, daya beli masyarakat Padang terhadap sektor perumahan terus meningkat. Hal itu bisa jadi karena rumah adalah kebutuhan utama bagi masyarakat. Namun disayangkan menurut Muhammad Firdaus, Cataru Properti Padang. Meningkatnya daya beli masyarakat masih belum mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Daerah. Terbukti hingga saat ini Biaya BPHTB ( Biaya Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ) yang semestinya menurut Peraturan Pemerintah Nomor 34 tahun 2016 dari 5% turun menjadi 2,5% . Nyatanya kondisi itu masih belum terjadi di Padang. Begitupula lanjut Firdaus masalah pengurusan validasi pajak masih membutuhkan waktu yang lama. Positifnya memang saat ini untuk memudahkan wajib pajak dalam pengurusan BPHTB Pemerintah Daerah sudah menerapkan system online.

 

Kedepan dengan semakin menariknya potensi investasi di Padang, terlebih setelah Pemerintah Daerah mulai memberikan supporting dalam wujud pembangunan infrastruktur jalan hingga ke pedesaan, maka pelaku bisnis berharap masalah – masalah yang menjadi penghambat usaha bisa diminimalkan.

Baca juga !  Rumah Minimalis Modern Versi Bangkok Thailand

 

0/5 (0 Reviews)
Achmad S. F
the authorAchmad S. F

Tinggalkan Balasan