Properti

SEKTOR PERKANTORAN MASIH BERTUMPU PADA BISNIS E-COMMERCE & FINTECH

PropertiProperti

Peningkatan grafik proyeksi pertumbuhan bisnis e-commerce yang ada di Indonesia. Memang pada akhirnya berdampak pada peningkatan kebutuhan ruang perkantoran. Itulah yang terjadi pada tren bisnis perkantoran selama Q1 tahun 2018.

Meskipun kondisinya tidak lebih baik dari 4Q17, namun tetap masih bersyukur bahwa di 1Q18 kondisi bisnis perkantoran masih memberikan peningkatan / penyerapan sebesar 15% dari ruang yang disewakan. Padahal pada 4Q17 penyerapannya berada di kisaran angka 30%.  Ha itu mengindikasikan bahwa memang memasuki 1Q18 kondisi disektor perkantoran masih belum menunjukan performa terbaiknya.  Dimana 15% penyerapan ruang sewa pun masih berasal dari sektor perusahaan teknologi seperti E-Commerce dan Fintech.

Sementara sektor bisnis lain selain perusahaan teknologi, sekalipun masih cukup aktif memberikan kontribusi bagi sektor perkantoran. Namun jika dilihat dari prosentasenya masih cukup kecil. Dari data yang disajikan oleh JLL Indonesia, beberapa sektor  bisnis yang masih memberikan kontribusi adalah perusahaan perbankan, asuransi, penyedia layanan profesional  serta beberap jenis perusahaan umum lainnya. Dengan adanya kondisi seperti ini memang memberikan satu gambaran baru  bagi pelaku dalam pengelolaan bisnis perkantoran,  bahwa untuk lebih mengenjot  penyerapan ruang perkantoran maka mereka harus  lebih aktif mendekatkan dirinya dengan pelaku bisnis di sektor E-Commerce dan Fintech.

Itulah seninya,.. melihat perkembangan bisnis di sektor perkantoran. Sekalipun kondisinya belum berjalan secara maksimal. Dimana penyerapan  yang terjadi lebih rendah dari penambahan  ruang kantor baru. Namun nyatanya pelaku bisnis tidak serta merta menghentikan kegiatannya untuk menambah lagi pembangunan gedung-gedung perkantoran baru terutama di daerah CBD dan Non CBD. Terbukti di awal 1Q18 saja Menara-Menara Treasury dan Prosperity yang selesai di bangun pada 1Q18 masuk ke pasar dengan total luas areal sebesar 190.000m2.  Dimana proyek ini adalah  merupakan bagian terbesar dari pembangunan besar-besaran Distrik 8 Kawasan Sudirman  Central Business District (SCBD).

KOndisi seperti itu memang pada akhirnya membawa dampak kurang baik bagi perkembangan bisnis perkantoran secara keseluruhan.  Kita bisa lihat, tahun 2014 saja tingkat kekosongan baru 5%. Namun memasuki 1Q18 angkanya meningkat menjadi 34%. Sebuah peningkatan tingkat kekosongan ruang kantor yang cukup signifikan selama 4 tahun yaitu ada kenaikan sebesar 580%. Ini akan terus meningkat jika kondisi mikro dan makro ekonomi masih sama dengan 1Q18. Sehingga bisa jadi di akhir 2018 atau 4Q18 angka peningkatan kekosongan ruang kantornya akan lebih besar dari 34%.

Memang itulah resiko yang mesti dihadapi oleh para pemilik ruang kantor.  Ada dua kendala  yang  mesti dihadapi menghadapi kurang baiknya kondisi bisnis di sektor perkantoran terlebih untuk gedung-gedung perkantoran lama. JIka gedung baru saja mereka bisa memberikan harga sewa yang lebih rendah dari harga penawaran hanya karena agar ruang-ruang yang ada bisa terisi. Lantas bagaimana dengan gedung perkantoran lama yang mau tidak mau mesti bersaing dengan gedung perkantoran baru. Namun itulah resiko sebuah bisnis.

Baca juga !  Rumah Minimalis Modern Versi Bangkok Thailand

Dari data yang diperoleh JLL Indonesia, pada 1Q18 triwulan pertama harga turun sekitar 1,2% Q-o-Q, yang artinya penurunan sewa sekitar 23% telah terjadi dari puncak pertenghan  2015 hingga ke titik terendah 1Q18.  Dan kondisi seperti ini menurut analisa dar JLL Indonesia tidak akan banyak mengalami perubahan pada periode selanjutnya. Mengingat saat ini kondisi yang terjadi belum memberikan perubahan yang signifikan dari bisnis perkantoran di Indonesia.

 

 

 

 

 

 

0/5 (0 Reviews)
Achmad S. F
the authorAchmad S. F

Tinggalkan Balasan