Properti

POTENSI RUMAH TIPE SEDERHANA DI DAERAH MENINGKAT, SEBUAH PERSPEKTIF BISNIS MASA KINI & MENDATANG

propertiproperti

Memasuki triwulan II 2019.  Bisa di katakan memang bisnis properti belum menunjukan perkembangan yang signifikant. Beda dengan sektor perumahan kelas menengah  bawah.  Dari beberapa data yang di himpun terlihat potensi daerah masih menyimpan peluang untuk rumah menengah bawah.

Jika di lihat dari kondisi yang ada di sektor perumahan menengah bawah. Bisa di katakan sepanjang  triwulan II 2019 kondisi penjualan rumah menengah bawah mengalami kenaikan. Secara QTQ besarnya penjulana yang terjadi berada di kisaran angka 23,77% (QTQ) lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang  justru mengalami penurunan hingga 5,78% (QTQ).

Besarnya kenaikan yang terjadi pada sepanjang triwulan II 2019  terjadi di hampir semua tipe rumah kelas menengah bawah.   Tapi jika melihat kondisi yang ada dalam masa penjualan, justru rumah dengan tipe kecil merupakan segmen pasar yang paling tinggi tingkat penjualannya.

Besarnya potensi yang diberikan oleh perumahan tipe menengah bawah, memang pada akhirnya berdampak positif pada prosentase penggunaan fasilitas KPR dalam proses pembelian rumah. Karena tidak bisa di pungkiri, ketika kalangan kelas menengah bawah membeli rumah, biasanya mereka lebih familiar menggunakan fasilitas KPR.Sehingga karena kondisi itulah maka prosentase jumlah konsumen yang menggunakan KPR meningkat menjadi 74,16%. Dengan kondisi tersebut dampaknya adalah perbankan mengalami peningkatan penjualan produk KPR selama triwulan II 2019. Yang besarannya meningkat menjadi 4,02% QTQ dari 1,14% QTQ pada triwulan sebelumnya.

Tidak saja kenaikan secara QTQ, proses kenaikan juga terjadi dalam hitungan  YOY. Dimana dalam triwulan II tahun 2019 dari -10,64% YOY pada triwulan  sebelumnya menjadi 0,05% YOY pada triwulan berikutnya. Dimana jika dilihat peningkatannya, maka pertumbuhan penjualan rumah tipe kecil itu sendiri menjadi salah satu  triggernya berasal dari penjualan unit di rumah tipe kecil. Dari nilai -19,74% YOY pada triwulan sebelumnya menjadi 6,54% YOY.

Menariknya kondisi yang terjadi di perumahan sektor kelas menengah bawah. Memang terlihat justru pada pasar yang ada di daerah. Hal itu sejalan dengan konsep dan pengembangan bisnis perumahan kelas menengah  bawah yang lebih banyak di kembangkan di daerah.

Berdasarkan lokasi proyek pada triwulan II 2019. Khususnya pada periode bulan Maret 2019 suku bunga KPR tertinggi di Bengkulu 14,91%. Tapi justru suku bunga KPR terendahnya ada di daerah Jogjakarta sebesar  8,70%.  Sementara secara kumulatif, untuk tingkat suku bunganya sendiri, hingga triwulan II 2019 kelompok suku bunga tertinggi berada di kelas BPD sebesar 11,45% dan terendah di Bank Asing dan Campuran 7,04%. Ini menjadi satu hal yang menarik kedepan, bahwa ternyata bank asing dan campuran justru berani memberikan tingkat suku bunga yang rendah untuk KPR rumah kelas menengah bawah.

Baca juga !  Keuntungan Desain Rumah Gaya Minimalis Terlengkap Terbaru

Hal menarik lainnya adalah, tidak saja Bank Asing dan Campuran yang memberikan  tingkat suku bunga rendah.Tapi kondisinya adalah bahwa saat ini pengembang sudah lebih sehat, dimana potensi pembiayaan rumah lebih besar di berikan dari internal perusahaan.

Secara garis besar, jumlah alokasi dana yang diberikan oleh pengembang dalam pembangunan rumah adalah 60,30%. Sementara untuk dana yang berasal dari pinjaman Perbankan hanya di gunakan oleh pengembang sebesar 29,56%. Dan yang terakhir anggaran atau pendanaan yang berasal dari konsumen atau dana pihak ke-3 cukup sedikit hanya 7,72%. Dari kondisi pengembang dengan segala model pembiayaanya. Maka untuk konsumennya sendiri,  terlihat kondisinya masih sama degan beberapa waktu yang lalu. Dimana untuk penggunaan KPR  jumlah yang diberikan oleh konsumen hingga triwulan II 2019 adalah 74,16%.  Sementara untuk pembiayaan secara cash sebanyak 17,33% dan melalui tunai bertahap ada sekitar 8,51%.

Itulah kondisi terkini dari pasar perumahan menengah bawah yang pada  triwulan II 2019 kondisinya seperti tercantum di atas. Dan secara keseluruhan untuk masalah FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan ) berada di posisi Rp 2,66 triliun pada triwulan II 2019. Besarannya  meningkat secara signifikant sebesar 1,52% YOY lebih tinggi dibandingkan sebesar 158,17%  YOY pada triwulan sebelumnya.

5/5 (1 Review)
Achmad S. F
the authorAchmad S. F

Tinggalkan Balasan