Properti

POTENSI PASAR PROPERTI “SEBANDING” DENGAN GABUNGAN 9 SEKTOR INDUSTRI YAITU RP251 TRILIUN

PropertiProperti

Bisnis di sektor properti, sekalipun kondisinya tahun 2019 belum maksimal. Tetapi menariknya justru di tahun 2020 mendatang, besarnya  potensi market dari sektor properti cukup tinggi. Nilainya bisa mencapai Rp251 triliun dengan melihat kondisi yang saat ini terjadi di  Indonesia.

 

Sifat bisnisnya yang tidak akan pernah mati, karena sektor properti erat kaitannya dengan kebutuhan dasar manusia yaitu penyediaan hunian yang layak. Maka wajar jika dari tahun ke tahun, pergerakan bisnis properti selalu terlihat atraktif.  Hal itu terbukti dari kondisi pasar yang di prediksi nilainya bisa menyamai  besaran dari beberapa sektor industri sekaligus.  Sebut saja misalnya: sektor keuangan, konsumsi, infrastruktur, transportasi, perdagangan dan juga investasi. Masih di  tambah beberapa sektor lain seperti industri kimia dasar dan kimia, pertambangan, pertanian  dan industri lainnya. Beberapa sektor tersebut jika di gabungkan maka komposisi gabungan itu sekitar 10% nya adalah potensi bisnis properti yang ada di Indonesia tahun 2020.

Menariknya bisnis di sektor properti memang tidak terlepas dari banyaknya kaitan bisnis ini dibanding dengan bisnis lainnya. Dimana ketika kita bicara soal bisnis properti maka  kaitannya bisa terdiri dari industri konsultansi seperti  industri arsitektur, interior desain, lighting dan beberapa  industri konsultansi lainnya. Hal itu masih di tambah dengan dukungan industri lain seperti industri konstruksi atau kontraktor juga produsen dan industri bahan bangunan. Serta adanya sektor atau industri jasa lain seperti industri perbankan, asuransi, manajemen, dan beberapa industri lainnya.

Terkaitnya beberapa sektor industri dalam satu lingkungan bisnis di bisnis properti memang mengandung beberapa hal menarik. Seperti yang disampaikan oleh Handri Kosada, CEO Barantum. (1) Bisnis  properti adalah bisnis yang mengutamakan kepuasan customer, sehingga ketika perusahaan mampu memberikan kepuasan untuk customernya maka sudah pasti customer ini akan menjadi loyal customer bagi perusahaan  yang bersangkutan.  (2) Kedua ada baiknya pelaku bisnis mulai mengoptimalkan pemanfaatan CRM (Customer Relationship Management). Implementasinya adalah, ketika perusahaan memiliki banyak klien baik dalam negeri ataupun luar negeri. Maka karakteristik dan potensi bisnis yang dimiliki oleh klien atau customer bisa di analisa lebih jauh. Sehingga potensi bisnis yang ada di sisi klien bisa di optimal-kan oleh perusahaan.

5 TREN BISNIS YANG MEMBENTUK INDUSTRI DI KAWASAN ASIA PASIFIK

Tidak saja mengikuti tren yang ada di dalam negeri, ini juga menariknya bisnis properti. Karena keterkaitan  tren yang ada di regional dan international bisa mempengaruhi kondisi yang ada di dalam negeri. Itulah  kenapa, pelaku bisnis sektor properti ada baiknya juga mengamati apa  yang terjadi di  sekitar regional dan international dan salah satunya adalah coba mengamati apa yang terjadi di kawasan  Asia Pasifik.

Baca juga !  Model Interior Kamar Tidur Minimalis

Apa yang disampaikan  Handri Kosada sesuai dengan apa yang terjadi di kawasan Asia Pasifik , setidaknya ada 5 tren bisnis menurut Handri Kosada sejalan dengan kondisi yang ada. (1). Pertumbuhan aset-aset yang terkait dengan “ kehidupan” . (2) Pengembangan ruang kerja yang fleksibel untuk menarik bakat. (3). Bertambah banyaknya pusat logistic dan data (4). Terjadinya perubahan terhadap eksposur utang dan (5). Evolusi kota pintar.

Dari 5 tren bisnis yang ada, setidaknya ada 2 point yang sejalan dengan statement yang dijelaskan oleh Handri Kosada. Pertama soal bertambahnya pusat logistic dan data, karena ini terkait dengan bisnis e-commerce. Maka sudah pasti kebutuhan perusahaan akan adanya aplikasi CRM semakin tinggi. Hal itu dikarenakan ada beberapa fungsi atau keunggulan dari CRM yang bisa memaksimalkan potensi bisnis dari e-commerce. Kedua soal pengembangan kota pintar, jika kondisi ini di wujudkan maka sudah pasti kebutuhan akan perlunya meningkatkan sistem dan aplikasi berbasis teknologi semakin meningkat. Dan salah satu aplikasi yang bisa mengakomodir kebutuhan itu adalah CRM dan Call Center (www.barantum.com)

Bicara soal aplikasi teknologi, Barantum.com sebagai salah satu penyedia aplikasi CRM & Call Center bisa menjadi alternative solusi bagi pelaku bisnis. Ada beberapa hal yang membuat aplikasi CRM & Call Center Barantum pada akhirnya mampu menjadi salah satu alternative solusi dari apa yang dijelaskan pada point (3) dan (5). Pertama bisa di jelaskan bahwa CRM ( customer relationship management) adalah sebuah aplikasi teknologi yang bisa di jadikan sebuah strategi bisnis yang jitu. Karena aplikasi ini mampu meng-kolaborasi-kan antara manusia dengan teknologi. Sehingga bisnis bisa di optimal-kan dengan peran aplikasi teknologi digital tersebut.

Ada beberapa tujuan yang perlu perusahaan ketahui, ketika ingin melakukan implementasi dari sistem CRM. Intinya bahwa aplikasi CRM adalah sebuah alat yang bisa di maksimalkan untuk memaksimalkan potensi bisnis yang ada pada diri customer. Sehingga dengan mengetahui potensi bisnis  dari setiap karakter customer, maka hal itu menjadi satu hal positif untuk meningkatkan level customer menjadi loyalitas customer. Dengan kondisi tersebut, maka peningkatan kinerja perusahaan yang bersumber dari customer bisa tetap di pertahan-kan bahkan mungkin di tingkatkan.

CRM & CALL CENTER,  ALTERNATIF SOLUTION DI BISNIS PROPERTI ( REAL ESTAT ) 

Jika saat ini kondisi sektor properti terjadi peningkatan yang cukup signifikant. Ini menunjukan bahwa saat ini adalah momentum yang tepat bagi customer/ investor untuk masuk dalam bisnis properti. Sedangkan untuk pebisnis, saat inilah momentum yang tepat untuk bisa meningkatkan potensi bisnis yang berkembang di sektor properti.

Berikut updating data dari bisnis properti. Berdasarkan Statistik Ekonomi Keuangan  Indonesia, kondisinya menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan kredit properti dari Rp795,56 trilliun (2018) menjadi Rp 927,35 triliun (2019). Komponen peningkatan yang terjadi lebih banyak untuk sektor Kredit Konstruksi tumbuh 24,69% dari Rp245,48 triliun menjadi Rp306,08 triliiun. KPR & KPA tumbuh 13,53% dari Rp411,54 triliun menjadi Rp467,24 triliun. Dan yang terakhir kredit konstruksi sebesar 11,18% dari angka Rp138,54 triliun menjadi Rp154,03 triliun.

Baca juga !  Desain Teralis Rumah Terbaik Masa Kini

Dari beberapa sektoral yang memberikan peningkatan. Jelas terlihat bahwa sisi customer menjadi salah satu kunci peningkatan yang terjadi pada beberapa sektor kredit di bisnis properti.  Ini semakin menunjukkan bahwa pada dasarnya salah satu kunci utama dalam pengembangan bisnis properti adalah bersumber dari keberadaan customer. Dan untuk memaksimalkan customer salah satu yang bisa di lakukan adalah dengan meningkatkan status customer menjadi loyalitas customer.  Kondisi ini bisa dicapai ketika perusahaan mengaplikasikan sebuah aplikasi bisnis yang terkenal dengaan istilah CRM dan Call Center.

Dan untuk semakin membuktikan bahwa sektor properti dengan segala keunggulannya menarik minat pebisnis asing adalah seperti dijelaskan sebagai berikut : Kondisi melambatnya perekonomian yang terjadi di dua negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar di dunia yaitu China dan India. Itulah salah satu alasan kenapa pelaku asing tertarik untuk masuk ke Indonesia.  Dengan besarnya jumlah penduduk yang ada di Indonesia serta stabilnya pertumbuhan ekonomi yang berada di level 6% per tahun. Itulah salah satu alasan kenapa Indonesia cukup menarik.  Dan hingga pada akhirnya tercatat ada beberapa negara yang cukup  tertarik untuk bisa masuk ke Indonesia dengan segala potensi bisnisnya untuk mengembangkan bisnis properti di negara yang saat ini berpenduduk 267 juta jiwa yaitu : Hongkong, Australia dan Selandia Baru.

 

 

5/5 (1 Review)
Achmad S. F
the authorAchmad S. F

Tinggalkan Balasan