PropertiUncategorized

GELIAT PROSPEK BISNIS PUSAT BELANJA, DI KOTA PELAJAR JOGJAKARTA

Keberadaan Jogjakarta sebagai salah satu destinasi utama di Indonesia nampaknya akan tetap dipertahankan. Terlebih saat ini Jogjakarta tidak saja dikenal karena pariwisata seni dan budayanya. Tapi beberapa bulan terakhir Jogjakarta juga dikenal dengan pariwisata belanjanya.

 

Siapa tidak kenal Jalan Malioboro dengan pedagang kaki limanya yang ada di sepanjang jalan tersebut. Itulah salah satu icon Jogjakarta dengan Jalan Malioboronya serta ratusan pedagang yang siap menerima kunjungan turis local dan mancanegara yang berkunjung ke Jogjakarta.

Memasuki tahun 2018, agaknya kondisi Jogjakata tidak akan banyak berubah ketika kita bicara soal potensi bisnis di sektor propertinya. Dengan tingkat pertumbuhan ekonominya yang di sampaikan oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Yogyakarta, Arief Budi Santosa bahwa tahun 2017 berada pada range level 5%. Agaknya jika melihat perkembangan Jogjakarta dari angka-angka yang di keluarkan oleh Bank Indonesia, terlihat bahwa memang Jogjakarta masih menyimpan daya tarik investasi di sektor properti terutama dalam sektor pariwisata.

Pinjangan modal kerja yang ada di Jogjakarta meningkat dalam 2 bulan sekitar 0,76% dari Rp13.993.694 (jutaan) periode Oktober 2017 menjadi Rp14.100.437 (jutaan)Nopember 2017. Sementara untuk nilai pinjaman yang di ajukan sebagai modal investasi juga mengalami peningkatan sebesar 0,35% berasal dari Rp9.490.568 (jutaan) di bulan Oktober 2017 naik menjadi Rp9.523.726 (jutaan) di bulan Nopember 2017. Sedangkan untuk kredit UMKM sendiri juga mengalami peningkatan. Sekalipun tumbuh hanya 0,01% selama 2 bulan ( Rp12.907.245 (oktober ) menjadi Rp13.043.729 (nopember)  ( jutaan) , namun hal itu  juga menunjukan bahwa bisnis UMKM di Jogjakarta mengalami peningkatan. (sumber data Bank Indonesia).

AA Norzam, selaku property consultant dari Jogjakarta melihat, terjadinya peningkatan di sektor ekonomi Jogjakarta terjadi karena beberapa hal. Disamping karena pengaruh peningkatan UMK (upah minimum kota) Jogkarta, juga bisa disebabkan pengaruh dari  telah selesainya pembayaran  ganti untung lahan yang digunakan sebagai Bandara New Yogyakarta International Airport ( NYIA). Dengan kondisi seperti itu lanjut Norzam  yang sudah menggeluti dunia  broker beberapa waktu lamanya melihat wajar jika pada akhirnya sebagai salah satu surga belanja di Indonesia  Jogjakarta kian hari kian menambah jumlah daftar pusat perbelanjaan atau biasa di kenal dengan sebutan mall.

Setidaknya dalam catatan Norzam, ada sekitar 12  pusat perbelanjaan baru dan lama yang akan menghiasai Jogjakarta. Ke-12 pusat belanja itu adalah seperti : pusat belanja yang segera beroperasi adalah : Lippo Plaza Jogjakarta, Jogja One Line, Hartono Mall, Ambarukmo Plaza 2, dan Sahid Jogja Walk .Sedangkan pusat belanja yang sudah berdiri ada : Galeria Mall, Malioboro Mall,  Ambarrukmo Plaza, Jogjatronik, Ramai Mall dan Jogja City Mall. Dan 2 pusat belanja lainnya yang akan menyusul dibangun adalah : Mataram City Walk hingga Hypermart.

Baca juga !  Desain Rumah Berpemandangan Terbaik di Pinggir Pantai

Berdirinya  beberapa pusat perbelanjaan baru yang ada di Jogjakarta, memang  tidak saja terjadi karena investor melihat potensi pariwisata yang ada di Jogjakarta sebagai salah satu penopang pertumbuhan ekonomi yang ada di Jogjakarta. Namun investorpun melihat potensi Jogjakarta sebagai Kota Pelajar yang mengindikasikan bahwa potensial buyer yang menjadi target pusat perbelanjaan tersebut tersedia cukup banyak di Jogjakarta.

Sedikit gambaran bagaimana kondisi pengeluaran mahasiswa yang ada di Jogjakarta yang berhasil kami himpun dari beberapa sumber periode tahun 2017. Biaya menuntut ilmu di Jogja dalam versi dibangku kuliah, saat ini biayanya cukup bervariasi dari angka Rp400 ribu hingga Rp2 juta per bulannya. Sementara untuk biaya makan para mahasiswa jika diberikan dalam range waktu sekitar pukul 08.00 pagi hingga 21.00 harganya pun 1 porsi dari Rp 10 ribu – 30 ribu. Sedangkan mengenai biaya kost atau penginapan, dikarenakan Jogja terkenal dengan mahasiswanya yang berasal dari seluruh penjuru nusantara. Jika bisa di rata-ratakan, saat ini pada periode waktu tahun 2017, biaya kost untuk para mahasiswa ada di kisaran harga Rp 300-650 ribu per bulannya lebih murah di banding kost putri yang harganya bisa mencapai Rp 400ribu hingga Rp1,2 juta perbulannya. Jika diakumulasi dalam tahunan maka kisaran harga kost yang ada di Jogjakarta berada pada level  harga Rp 3-7 juta per tahunnya.

Dengen angka yang cukup menarik seperti itu, wajar memang jika pada akhirnya saat ini para investor atau pemodal berlomba-lomba membangun pusat perbelanjaan di Jogjakarta, karena bagi mereka ini adalah potensi bisnis yang akan bisa bertahan cukup lama di Jogjakarta.

 

 

 

0/5 (0 Reviews)
Achmad S. F
the authorAchmad S. F

Tinggalkan Balasan