Biaya Bangkit Rumah Permeter 2019

Rumah merupakan aset paling berharga yang dimiliki seseorang. Bisa dibeli dari pengembang dengan memanfaatkan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau membayar secara kontan. Namun Anda juga sanggup membangun rumah impian, sehabis mempunyai tanah.

Jika menentukan membangun rumah sendiri, Anda perlu menghitung kebutuhan uang untuk membeli bahan-bahan material bangunan, upah pekerja, dan biaya lainnya. Ini harus jadi perhatian, alasannya yaitu membangun rumah dari nol bukan kasus mudah. Saking banyaknya duit yang diperlukan, bahkan banyak orang yang membangun rumah secara bertahap. 

Tentu saja untuk membangun rumah impian, Anda harus menyesuaikan dengan kemampuan finansial. Jika dana terbatas, tak perlu glamor dan megah. Rumah bergaya minimalis dan elok bisa jadi pilihan rumah idaman. Ulasan berikut berisi perihal rangkuman membangun rumah minimalis. Mulai dari pengertian, estimasi biaya, sampai kiat membangun rumah hemat biaya. Namun tetap nyaman.

Biaya Bangkit Rumah Permeter 2019

Konsep rumah minimalis terinspirasi dari pedoman filosofis asal Jepang yang dikenal sebagai Zen. Orang-orang yang keseluruhan hidupnya bersandar pada Zen ditekankan untuk bisa hidup mengharmoniskan badan dengan pikirannya. Dari pedoman Zen, kuat dugaan konsep rumah minimalis lahir. Sebab dalam Zen, ketenangan diraih apabila hidup menyatu dengan alam. Inilah yang terdapat dalam konsep rumah minimalis

Berniat untuk membangun rumah minimalis? Berikut ini hal-hal yang perlu diperhitungkan untuk membangun rumah minimalis.

1. Berapa Biaya untuk Membayar Tenaga Kerja?

Ada tiga sistem yang selama ini berlaku dalam membangun rumah, yaitu sistem harian, borongan jasa, dan borongan penuh. Hitung-hitungan bayarannya berbeda-beda. Dilansir dari rumah.com, untuk sistem harian, biayanya per hari sekitar Rp100-150 ribu per hari.

Sementara biaya borongan jasa sekitar Rp600-800 ribu per meter persegi. Lain halnya dengan biaya borongan penuh yang lebih tinggi, biayanya bisa sekitar Rp3-5 juta per meter persegi. Perlu diketahui untuk borongan jasa, yang dibayarkan hanya jasanya, sedangkan materi material disediakan sendiri.

Dari segi waktu, umumnya sistem borongan lebih cepat ketimbang sistem harian. Namun, bila sudah simpulan dan ingin mengubahnya, sistem harian lebih memungkinkan ketimbang sistem borongan yang mengandalkan desain rumah yang Anda inginkan.

2. Luas Tanah dan Bangunan

Katakanlah ingin membangun rumah 21/60. Artinya, Anda membutuhkan tanah seluas 60 meter persegi dan harga tanah di lokasi incaran di Jakarta yang diinginkan contohnya Rp2.000.000/m². Jadi, biaya yang perlu disediakan untuk membeli tanah= Rp2.000.000 x 60 = Rp120.000.000.

Selanjutnya, asumsi biaya untuk membangun bangunan. Yang dimaksudkan biaya bangunan yaitu asumsi biaya untuk pembelian material, ibarat pasir, kerikil bata, semen, genteng, keramik, dan sebagainya. Untuk yang satu ini, Anda perlu mengomunikasikan dengan kepala pekerja apa saja material yang menjadi kebutuhan bila memakai sistem harian.

Andaikan saja Anda menentukan sistem borongan penuh. Biaya yang perlu dikeluarkan dengan harga borongan penuh Rp3 juta per meter persegi= 21 x 3.000.000 = Rp63.000.000. Jadi, total biaya beli tanah dan bangunan (sistem borongan penuh): Rp120.000.000 + Rp63.000.000 = Rp183.000.000.

3. Biaya Lain-lain

Bila dalam masa pembangunan, ada perubahan yang ingin dilakukan, ibarat membangun taman, menambahkan ornamen, dan sejenisnya, perlu dihitung berapa asumsi biayanya. Biaya ini perlu dipersiapkan dalam anggaran. Tetapkan sebesar 10% dari keseluruhan total anggaran.

Total Anggaran Pembangunan Rumah Minimalis Tipe 21/60

Ketiga pos anggaran di atas yaitu anggaran yang sangat mungkin harus dipersiapkan dalam membangun rumah minimalis. Kalau di total seluruhnya, asumsi biaya yang mesti dipersiapkan sekitar:

  • Biaya Tanah + Bangunan (borongan penuh): Rp183.000.000
  • Biaya Lain-lain: ditiadakan alasannya yaitu sistem borongan penuh
  • Total Anggaran: Rp183.000.000

Dengan simulasi semacam ini, akan diketahui besaran anggaran untuk membangun rumah minimalis tipe 21/60. Tentu saja anggaran dalam simulasi di atas bisa berubah-ubah tergantung harga di pasaran, terutama pada materi material yang akan digunakan.

Inilah Tiga Tips untuk Menghemat Biaya Membangun Rumah

Biaya untuk membangun rumah minimalis mencapai lebih dari Rp100 juta. Biaya yang tidak gampang dikumpulkan dalam waktu singkat. Karena itu, ketika memutuskan membangun rumah, cobalah untuk menerapkan beberapa tips berikut semoga dari segi pembiayaan sanggup menekan beberapa pos anggaran dan bisa dilakukan penghematan.

1. Tenaga Kerja Profesional yang Dapat Diajak Negosiasi

Salah satu pos anggaran terbesar dalam membangun sebuah rumah yaitu biaya tenaga kerja. Kalau ada sahabat atau kerabat yang terbiasa bekerja membangun rumah, ibarat mandor dan punya beberapa kenek, Anda sanggup memakai jasanya. Lobi-lobi siapa tahu bisa sanggup harga teman. 

2. Pertimbangkan Pilihan Bahan Baku

Hal yang kedua yaitu pilihan materi baku atau material. Dengan mempertimbangkan pemilihan materi baku, kemungkinan melaksanakan penghematan bisa saja terjadi. Saat ini semakin banyak material atau materi baku yang berkualitas dengan harga pantas untuk dipilih dalam membangun sebuah rumah.

3. Lokasi Lahan Pembangunan Rumah

Harga tanah sangat besar lengan berkuasa juga pada total keseluruhan biaya. Semakin strategis lokasinya, kemungkinan biaya yang harus disiapkan untuk membeli tanah juga makin besar. Pilih dengan saksama semoga tak menyesal nantinya.

Selalu Perhatikan Informasi Terbaru

Membangun rumah dengan konsep minimalis yaitu solusi untuk menekan besaran biaya yang harus dikeluarkan. Namun, tetap saja harus cermat semoga tak ada faktor pemborosan sehingga menjadikan pembengkakan anggaran. Untuk itu, selalu perhatikan gosip terbaru yang ada, baik harga tanah, material, maupun tarif pekerja. Jika kekurangan dana ketika membangun rumah, Anda sanggup memanfaatkan akomodasi Kredit Tanpa Agunan (KTA). Sumber: cermati.com

Leave a Comment